MENGANGKAT NILAI ARTISTIK BAMBU DALAM WORKSHOP HIMA ARSITEKTUR UNIBOS

MENGANGKAT NILAI ARTISTIK BAMBU DALAM WORKSHOP HIMA ARSITEKTUR UNIBOS

Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA) Universitas Bosowa (Unibos) menggelar workshop bambu sebagai rangkaian acara milad ke-25 HMS Unibos di Auditorium Aksa Mahmud Universitas Bosowa, Kamis (17/11).

Kegiatan bertema “Pemberdayaan Bambu Sebagai Alternatif Bahan Bangunan” ini dihadiri mahasiswa Program Studi Arsitektur Unibos dan juga mahasiswa Arsitektur Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar.

Dekan Fakultas Teknik, Dr. Hamsina, ST., MT mengungkapkan workshop bambu bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memberikan wawasan terkait bambu yang dapat digunakan sebagai bahan alternatif dalam membuat konstruksi.

“Pembuatan konstruksi itu juga bisa menggunakan bambu seperti pembuatan rumah tradisional dan pembuatan galery yang lebih indah. Bambu itu punya nilai artistik lebih, selain karena bisa dipoles dan dibentuk lebih mudah juga bambu bisa dengan mudah didapatkan dan ramah lingkungan”, ungkapnya.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh koordinator kegiatan workshop bambu, Sumarto yang menambahkan bambu juga dapat dibentuk lebih fleksibel, bisa dijadikan apa saja. “bambu bisa kita gunakan bukan hanya sebagai alternatif konstruksi bangunan tetapi juga bisa digunakan untuk membuat kreatifitas lain bagi para mahasiswa, seperti pembuatan maket. Bambu juga bisa tahan sampai 20 tahun”, tutur mahasiswa Arsitek Unibos.

Sementara itu dalam pemaparan materi yang dibawakan oleh Siti Khadijah Sultan, ST., MT perwakilan Balai Penelitian dan Pengembangan Perumahan Wilayah III Makassar juga menambahkan pemanfaatan bambu dan proses pengawetan bambu.

Menurutnya, bambu di Indonesia termasuk tanaman yang cepat dari segi pertumbuhan. Sehingga pemanfaatannya pun dapat digunakan kapan saja. “Beberapa hal baik yang ada pada bambu untuk dimanfaatkan itu karena bambu mudah ditemukan, mudah dikerjakan karena memiliki kelenturan bahan yang tinggi, memiliki ketahanan luar yang baik dan juga bisa membantu untuk mencegah erosi”, tutur Siti Khadijah.

Workshop ini dilakukan dengan maksud untuk kembali mengingatkan keairfan lokal yang dimiliki Indonesia. Melihat saat ini bambu semakin jauh dilirik dalam pembuatan konstruksi bangunan, workshop ini ditujukan untuk kembali mengangkat eksistensi bambu yang masih dapat digunakan dalam memperoduksi suatu hasil. Termasuk membuat dinding kedap suara juga bambu dapat dijadikan sebagai pintu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *