“HIMA ARSITEKTUR UNIBOS : MAKASSAR MENUJU KOTA DUNIA”

“HIMA ARSITEKTUR UNIBOS : MAKASSAR MENUJU KOTA DUNIA”

“Makassar menuju kota dunia menjadi obsesi besar. Ini bisa menjadi landasan yang membuat kita bergerak maju untuk dapat mewujudkan harapan. Semestinya kita mendukung gagasan yang besar ini meski banyak tantangan termasuk jika dilihat bahwa perkembangan Makassar masih butuh berbenah, termasuk perilaku masyarakat yang harus menyesuaikan”.

Hal ini dikemukakan Wakil Rektor III Universitas Bosowa, Dr. Abdul Haris Hamid, SH., MH dalam Talkshow dan Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Unibos di Balai Sidang 45 Makassar, Selasa (15/11).

Kegiatan yang mengusung tema “Konstruksi Arsitektur dan Sosial Masyarakat Makassar Menuju Kota Dunia” ini dilakukan sebagai rangkaian acara Milad HIMA Arsitektur Unibos yang ke-25.

“Pengembangan wilayah menuju kota dunia itu berawal dari pemerintahan dan masyarakat. Seperti pembenahan dalam hal kebersihan setiap bagian kota juga termasuk birokrasi khususnya dalam mendesain bangunan. Contohnya sirkulasi yang bisa membantu masyarakat mewujudkan kota yang sehat. Selain itu yang perlu diperhatikan juga dalam hal merestorasi birokrasi pelayanan pada masyarakat. Ini harus kita lakukan dengan metode “smart dan sombere”. Smart dalam setiap sektor yang ada dalam kehidupan kita. Mulai dari menyaring informasi apa yang pantas untuk kita terima dan mana yang baik untuk kita lakukan juga sombere dalam hal bagaimana kita merefleksi kehidupan positif kita dan mempertahankan hal positif yang kita miliki”, kata Fatur Rahim.

Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintahan Kota Makassar ini juga menambahkan jika membangun Makassar menuju kota dunia itu membutuhkan beberapa teknik. “Ada item tertentu yang menjadi point untuk mewujudkan makassar sebagai kota dunia. Seperti elemen transportasi, pembangunan, pemerintahan dan yang terpenting itu perubahan pola pikir masyarakatnya untuk menimbulkan kesadaran mendukung dalam pembangunan kota”, tambahnya.

Hal tersebut juga diungkapkan Ir. H. Sanusi Anwar selaku Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) daerah Sulsel. Jika suatu wilayah mengarah menjadi kota dunia harus perlu pengembangan yang banyak termasuk perilaku yang menunjukan konsistensi tinggi dan regulasi yang baik.

“Salah satu yang membuat suatu kota itu kumuh adalah perilaku masyarakatnya. Jadi yang bisa membuat kota itu kembali berkembang juga karena perilaku masyarakat. Hal lain yang bisa memberi perubahan suatu kota juga dilihat dari bagaimana peran arsitek yang mampu memberi warna. Konstruksi bangunan bukan hanya sekedar bentuk dari sebuah ruang tetapi juga harus mampu memiliki makna khusus yang lebih berkesan. Bukan hanya bangunan yang semata-mata menjadi bangunan saja tanpa simbol-simbol tertentu”, tutur Ketua IAI Sulsel.

Kegiatan yang menghadirkan Mahasiswa Arsitektur Universitas Bosowa (Unibos), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Pepabri Makassar, Universitas Islam Makassar (UIM), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Universitas Fajar (Unifa) juga dihadiri oleh Arch. Diploma Ing. Damius Gozali selaku arsitek dan Prof. Dr. Tommy yang merupakan Guru Besar Arsitektur Unibos.

Kegiatan yang dilanjutkan dengan diskusi bersama para peserta yang hadir ini juga dilakukan sekaligus penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) Program Studi Arsitektur Unibos oleh Ketua Prodi Arsitektur Samsuddin Mustafa, ST., MT dengan  Perkindo (Persatuan Konsultan Indonesia) oleh Ir. H. Mahmud Lakaiya,  Inkindo (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia) oleh Ir. Muhammad Dahir dan juga dengan Balai Perumahan Wilayah III Makassar – Pusat Litbang Pemukiman PUPR oleh Lasriyanti Latief, ST., MT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *